Langsung ke konten utama

Antologi ke-3 Cinta Gadis Kembar

Beberapa hari lagi,  Ramadhan akan menjelang. Semoga kita bisa saling maaf memaafkan.  :)
Hari ini saya akan membahas mengenai salah satu buku dengan cerita-cerita islami yang siap disuguhkan untuk menyambut bulan penuh kebahagiaan. Antologi ini berisi tentang kisah cinta islami. Bukan lagi tentang pacaran meski ada cinta terlarang pula yang diceritakan. Antologi ini tentang perasaan yang Allah anugerahkan untuk setiap insan. Tentang cinta yang ingin dihalalkan. Tentang bagaimana cinta dijalani oleh setiap manusia yang sedang dirundung.

Antologi Cinta Gadis Kembar adalah antologi ketiga yang diterbitkan secara self publishing oleh penerbit Pena Indhis. Naskah saya yang lolos adalah Mencintaimu (cukup) Sekadar Saja. Sebenarnya saya mengikutkan empat naskah, hanya saja yang lolos memang cuma satu. Menurut saya, naskah tersebut adalah naskah yang memiliki gaya bahasa paling berbeda di antara naskah yang lain. Ceritanya juga yang paling berbeda. Dalam artian sebenarnya tiga naskah yang lain saya buat berhubungan, tapi ternyata mereka tidak masuk. Tidak masalah. Sebab bukankah satu sudah cukup untuk menjadi salah satu kontributor terpilih yang hanya berjumlah 30 orang dari enam ratus lebih naskah yang masuk. Komentar juri untuk naskah tersebut:
Mencintaimu (cukup) Sekadar SajaAifia A. Rahmah.
Penilaian:
- Cerita : cerita yang sebenarnya umum tapi karena dituliskan dari sudut pandang dan dengan cara yang berbeda membuat cerita ini menjadi menarik untuk diikuti sampai ending.
- Tata bahasa :  bagus
- Alur : cukup bagus
- Konflik : konflik yang biasa tapi sangat terasa dan dituliskan dengan baik sehingga pembaca nyaman membacanya.
Dari komentar juri tersebut maka saya menarik kesimpulan bahwa hal yang paling menarik dalam naskah saya yang lolos adalah gaya bahasa yang saya gunakan. :). Apa pun idenya kalau kita bisa mengemas tulisan dengan apik dan membawa pembaca terhanyut dalam cerita kita itu salah satu poin yang perlu diperhatikan.

Sangat senang jika salah satu dari kamu tertarik untuk membaca buku Antologi Cinta Gadis Kembar ini. Barangkali banyak manfaat yang mungkin bisa didapatkan setelah membaca buku tersebut. :)
Ini cover dan spesifikasinya. Silahkan dilihat. :)
Cinta Gadis Kembar; Kisah Cinta Islami

Cerpen Kisah Cinta Islami; Cinta Gadis Kembar

 Judul Buku : Cinta Gadis Kembar
Penulis : Ainah Tung, Dwinyas, Amanta, dkk
Desain Cover : Fandy Said
Layout : Fandy Said
Editor : Ayuk Wardani
ISBN: 978 - 602 - 7896 - 24 - 6
Ukuran Kertas : 14 X 20
Tebal Buku: 160 Hlm
Harga : 39.000 (khusus Kontributor : 35.100)

PEMESANAN :
SMS ke No. Hp +6287837601181 (Ukh Nitha)
Dengan format : Judul Buku_Nama_Alamat Lengkap_No HP_Jumlah Pemesanan
Atau melalui pesan fb ke akun
Pena Indhis

SINOPSIS:
Bagaimana rasanya ketika orang yang kita suka, ternyata lebih memilih menjalin hubungan dengan saudara kembar kita. Ikut bahagiakah? Atau justru sebaliknya?
Kisah Sita dan saudara kembarnya Sinta mengajari kita arti cinta sesungguhnya. Cinta semu yang dibingkai dalam “ketidakhalalan” ternyata tidak hanya membuat nilai sekolahnya berantakan. Tapi juga membuat hubungan Sita dan Sinta retak. Lantas kenapa tiba-tiba Sita memilih untuk tidak tinggal di rumah? Dan bagaimanakah akhir kisah mereka? Simak lika-liku kisah Sita dan Sinta di cerpen “Cinta Gadis Kembar”.

Nikmati pula 18 kisah cinta Islami lainnya yang membuat hati kita merasa teraduk-aduk.

Ketika cinta datang disaat yang belum tepat, haruskah cinta terus dipertahankan? Atau kita memilih untuk melepasnya?

Bagaimana pula rasanya ketika kita dihadapkan pada dua pilihan sulit? Haruskah kita mengorbankan ego hanya karena cinta?

Ada juga kisah tentang detik-detik menjelang pernikahan, dan romantika pernikahan. Yang membuat pipi kita merona merah ketika membacanya.

Penasaran dengan kisah mereka? dapatkan bukunya di Pena Indhis....

KONTRIBUTOR:
Ainah Tung, Dwinyas, Amanta, Ahmad Fai’z, Try Sunaryo, Jinan Nakiyah Al-Ansr, Insani Nashiroh, Aifia A. Rahmah, Kiki Al Riskina, Muna Syahida, Aisyah Gaida Syahla, Zul Fahmi, Maria Khalisha Ash-Shiddieqy, Iswaf Naazneen, Dhya Rahmani, Doni Apriyanto, Azzahra Raihana, Ismie Silmi, dan Aderidi


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bingkai Estetik; Melangkah Menuju Jurnalistik yang Estetik

“Fungsi tulisan adalah menyampaikan yang tidak bisa dikatakan.” Restu Ismoyo Aji             Memasuki ranah jurnalistik sastrawi atau yang diperkenalkan dan akan dijalani oleh lembaga pers mahasiswa kampus seni adalah jurnalisme yang estetik. Gagasan jurnalisme yang estetik berasal dari penanggungjawab lpm kampus kami, pak Koskow. Dengan pengantar sebuah tulisan miliknya, maka dikenalkan bahwa jurnalistik yang estetik adalah sebuah ajakan yang meskipun akan sulit untuk dipahami, mengutip dari tulisan beliau bahwa yang estetik adalah menunjuk pada praktik seni yang katakanlah di luar arus utama. Membaca kalimat tersebut, maka jurnalistik yang estetik bukan berati kalah dengan jurnalistik yang ada di luar sana namun memiliki gaya kepenulisan yang berbeda dan tentu dengan analisis yang mendalam pula.             Berkaitan dengan praktik seni yang ada, setiap orang din...

Seni Rupa Buku

“Don’t judge the book from the cover, don’t judge the cover from the book.”             Beberapa hari yang lalu, dengan ditemani rintik hujan yang menimbulkan genangan diberbagai lubang-lubang di jalanan. Kami mendatangai sebuah diskusi dengan tajuk ‘Lesehan’ di kantor IKAPI Yog y akarta. Perbincangan hangat dengan kopi hitam kesukaan teman-teman, dengan saya yang pertama kali merasakan kepahitan pekatnya kopi dengan sedikit gula.             Temu mata dan kata pada waktu itu dibuka oleh Cak Udin, seorang penggiat buku yang kemudian mempersilahkan Pak Koskow, salah satu dosen DKV ISI Yogyakarta sebagai pembicara mengenai Seni Rupa Buku. Ia menghadirkan sebuah tulisan dengan judul “ Buku, Seni, dan Kerakyatan: Catatan untuk Praktik Perbukuan di Yogyakarta ”.   Sebagai media bacaan, tulisan ini juga sebagai satu informasi bahwa pembicaraan akan terfokus dari hal-hal ...

Ada yang Salah

Ada yang salah yang tengah bersarang dalam hidup ini setelah saya menamatkan masa kuliah Diploma. Saya tidak tahu setelah itu ada libur panjang yang membuat saya sering sekali bermalasan-malasan. Itu waktu dimana saya menaruh berbagai macam surat lamaran pekerjaan dan membuat saya menunggu dan menunggu. Sampai akhirnya ada panggilan dan melakukan kerja. Sejak saat itu, saya merasa saya menjadi orang yang selalu lari dari kehidupan. Saya tahu saya terlalu introvert atau bahkan saya tidak dapat menjelaskan kata apa yang cocok bagi saya, rasanya saya ingin menyamankan diri saya dengan keadaan tapi selalu gagal. Saya tidak paham kenapa. Rasanya di sekitar saya, tidak ada satu pun orang yang mendukung saya untuk melakukan sesuatu. Kalau pun ada dukungan itu hanya berupa modus. Entahlah, mungkin tidak hanya saya yang mengalaminya. Tapi, saya lebih berpikir keras lagi. Kenapa hidup saya menjadi sangat tidak berarti dan seakan-akan hanya membuang waktu dengan melakukan sesuatu yang saya pak...