Langsung ke konten utama

Antologi ke-4; Just You in My Heart

Ada "bagian dari saya" yang masuk ke buku Just You in My Heart, namanya Cinta Bermula dari Mata ke Kata. Buku ini terdiri dari tiga bagian. Untuk part 1, ada tulisan saya di situ. Jadi, kalau kamu suka dengan tulisan-tulisan saya bisa lengkapi koleksi kamu dengan Just You in My Heart Part 1. *ini lebih dari narsis.
Antologi ini dihasilkan dari kegiatan "Relation of Life (ROL)"  dengan tema "One Love One Heart" yang diadakan oleh Goresan Pena Publishing. Sebenarnya kegiatan ROL ini terbagi menjadi beberapa tema, hanya saja baru satu tema ini yang bukunya sudah siap cetak. Saya juga mengikutkan dua "bagian dari saya" lainnya dalam kegiatan ROL dan sedang menunggu proses penyuntingan atau apa pun itu -saya tidak tahu menahu.
Dan sebenarnya saya ingin bercerita sedikit tentang Cinta Bermula dari Mata ke Kata hanya saja rasanya lebih baik kamu langsung tukarkan uang kamu dengan bukunya deh.

Ini sampul buku untuk Just You in My Heart Part 1
Just You in My Heart; Part 1
Keterangan Buku dapat langsung kunjungin Goresan Pena Publishing.
Nama Kontributornya: Lita MD, Aifia A. Rahmah, Rafa Rumaisha. R. A, Rudi El Umar, Siti Khumairah, Vysel Arina, Moocen Susan, Maynovika Eka Ruwinata, Rani Kustiani, Bunda Umy, Mulyoto M, Nnisalida, Lela Rahmat, Murni Oktarina, Yosefa Sella, Aoi Yami Hikari.

_Jangan lupa dapatkan antologi saya yang lainnya ya. :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Tidak) Pulang

Oleh: Aifia A. Rahmah Kata orang, ayahku sudah mati tenggelam. Sering kudengar pula bisik-bisik tetangga yang menyatakan belas kasihnya padaku ketika aku lewat di hadapan muka mereka. Bukan tidak ingin berlaku sopan pada orang-orang itu, aku hanya berpura-pura untuk tidak mengenal dan mendengar percakapannya. Lalu, aku hanya berlalu begitu saja tanpa menghiraukan mereka yang menatapku iba. Aku sangat yakin, suatu hari ayahku akan kembali. *** Langit sudah mulai menjingga. Laut sudah mulai menggagahkan dirinya. Pasang. Membuat debur ombaknya kian kuat dan mendesak ke bibir pantai. Mengantar kepiting-kepiting kecil ke hamparan pasir. Aku masih saja duduk terdiam. Tidak berniat untuk berlayar hari ini. Hanya terdiam menatap laut yang menghidupi desa kami. Puluhan tahun yang lalu hingga kini. Hampir semua warga desa bermata pencaharian sebagai nelayan. Kebanyakan dari kami lebih suka hidup di pinggiran dengan penuh kebahagiaan daripada harus merantau ke perkotaan yang sering ...

Antologi Pertama "Snow in the Heart"

April lalu, tertanggal sembilan, pengumuman kontributor untuk lomba #JAPANINLOVE dari Penerbit Diva Press dipampang melalui situs resminya. Ada perasaan haru ketika salah satu naskah saya masuk menjadi kontributor pada salah satu buku yang akan diterbitkan untuk event tersebut. Saya sedikit tidak menyangka untuk hal itu. Sebab ini kali pertama naskah yang saya ikutkan dalam lomba berhasil tembus dan dibukukan. Bersyukur pada Tuhan. Proses pembuatan naskah cerpen "Ume Matsuri" yang berhasil tembus -tidak dengan Shunbun no Hi- mungkin hanya sehari (kalau saya tidak lupa). Awalnya saya menemukan detail mengenai lomba tersebut, saya sangat tertarik. Mulai mencari hal-hal yang berhubungan dengan Jepang di blog-blog pribadi orang yang tidak pernah saya kenal (sampai saat ini). Berjalan di sana-sini, sampai akhirnya saya menemukan gambaran yang lebih nyata tentang Jepang. Sampai akhirnya satu tema cerita berhasil saya dapatkan tentang salah satu bunga di Jepang yang mungkin ketenar...

Waktu Masih Berputar

 Oleh: Aifia A. Rahmah Satu detik yang lalu, seorang laki-laki tua yang telah tiga tahun silam menjadi pekerja parkir di salah satu mall ternama tercengang. Bola mata hitamnya terlampau fokus pada sebuah jam tangan bernama lelaki asing yang sulit ia eja, Michael Kors. Mahal dan berpenampilan seindah wanita dengan putih bernuansa. Entah siapa yang kehilangan atau sengaja meletakkannya di pos jaga. Yang jelas, saat ini laki-laki itu harus menjaganya. Sesiapapun barangkali akan kembali untuk mengambilnya. Lantas, tiba-tiba perhatiannya teralihkan. Jarum jam tangan yang ia genggang diam. Dua orang berjenis perempuan dengan pakaian kumal datang beriringan. Salah satu di antaranya terlihat telah berusia, yang lainnya masih begitu muda. Keduanya mencoba masuk ke dalam mall tempat kerjanya. Tapi, langkah mereka hanya terhenti tepat di depan dinding-dinding kaca yang menawarkan kemewahan metropolitan. Kedua perempuan itu terdiam. Cukup lama tanpa melakukan apa-apa. Tiba-tiba, ad...