Langsung ke konten utama

Dunia Topeng

Hari yang masih sangat muda, tiba-tiba ada yang bermunculan dalam hati tanpa berbentuk kata-kata.
Aku merasa ada yang mengganjal di sana. Sesuatu yang membuat tidak merasa nyaman bahkan hanya untuk sekadar datang.
Aku tidak tahu apakah itu benar atau hanya perasaan yang tidak paham akan keadaan. Tapi, aku benar-benar masuk pada sebuah dunia yang dipenuhi dengan wajah-wajah bertopeng. Aku sangat merasa mereka di depan sana bukan menjadi mereka di dibelakangku. Ada sesuatu yang sengaja mereka sembunyikan dan sengaja di tunjukan untuk membuat aku tetap berdiri di sana. Aku tahu topeng bukan wujud kepalsuan dari mereka, hanya saja mereka tidak ingin kehilangan sesuatu yang harus mereka dapatkan sehingga harus menjadi orang lain untuk menjadikanku tetap bersama.
Aku tahu barangkali ini hanya sebuah perasaan yang seharusnya tidak muncul, tapi aku sungguh-sungguh merasa senyum itu hanya sebuah kepalsuaan. Aku tidak pernah merasa demikian sebelumnya. Aku juga bukan orang yang peka terhadap sesuatu. Maka, barangkali hal itu tidak demikian. Atau akukah yang memang sebenarnya memakai topeng dimana-dimana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bingkai Estetik; Melangkah Menuju Jurnalistik yang Estetik

“Fungsi tulisan adalah menyampaikan yang tidak bisa dikatakan.” Restu Ismoyo Aji             Memasuki ranah jurnalistik sastrawi atau yang diperkenalkan dan akan dijalani oleh lembaga pers mahasiswa kampus seni adalah jurnalisme yang estetik. Gagasan jurnalisme yang estetik berasal dari penanggungjawab lpm kampus kami, pak Koskow. Dengan pengantar sebuah tulisan miliknya, maka dikenalkan bahwa jurnalistik yang estetik adalah sebuah ajakan yang meskipun akan sulit untuk dipahami, mengutip dari tulisan beliau bahwa yang estetik adalah menunjuk pada praktik seni yang katakanlah di luar arus utama. Membaca kalimat tersebut, maka jurnalistik yang estetik bukan berati kalah dengan jurnalistik yang ada di luar sana namun memiliki gaya kepenulisan yang berbeda dan tentu dengan analisis yang mendalam pula.             Berkaitan dengan praktik seni yang ada, setiap orang din...

Review - A9ama Saya Adalah Jurnalisme (Andreas Harsono)

“Kita tidak akan tahu batas dari kata-kata kita sendiri.”                                                             -Andreas Harsono             Tertanggal sama dengan hari saya dilahirkan, kota Yogyakarta mempertemukan saya dengan sebuah buku bersampul merah dengan judul nyentrik yang menurut saya sangat menarik, “A9ama Saya adalah Jurnalisme”. Buku yang telah mengisi rak buku saya baru saja ditamatkan hari ini, Sabtu pagi, ditemani dengan sebuah ejekan dari seseorang yang berkata bahwa saya sedemikian cerewet sebagai perempuan. Bukankah itu sesuatu yang wajar .           ...

Waktu Masih Berputar

 Oleh: Aifia A. Rahmah Satu detik yang lalu, seorang laki-laki tua yang telah tiga tahun silam menjadi pekerja parkir di salah satu mall ternama tercengang. Bola mata hitamnya terlampau fokus pada sebuah jam tangan bernama lelaki asing yang sulit ia eja, Michael Kors. Mahal dan berpenampilan seindah wanita dengan putih bernuansa. Entah siapa yang kehilangan atau sengaja meletakkannya di pos jaga. Yang jelas, saat ini laki-laki itu harus menjaganya. Sesiapapun barangkali akan kembali untuk mengambilnya. Lantas, tiba-tiba perhatiannya teralihkan. Jarum jam tangan yang ia genggang diam. Dua orang berjenis perempuan dengan pakaian kumal datang beriringan. Salah satu di antaranya terlihat telah berusia, yang lainnya masih begitu muda. Keduanya mencoba masuk ke dalam mall tempat kerjanya. Tapi, langkah mereka hanya terhenti tepat di depan dinding-dinding kaca yang menawarkan kemewahan metropolitan. Kedua perempuan itu terdiam. Cukup lama tanpa melakukan apa-apa. Tiba-tiba, ad...